Kamis, 02 April 2009

Ikan Sembilang

. Kamis, 02 April 2009



IKAN SEMBILANG – Hidup di laut dangkal dan muara sungai.



KARAWANG – Malam yang cerah seketika berubah. Langit mendung, gerimis mulai turun, halilintar saling berkejaran. Satu per satu pemancing berjalan di atas pancangan. Dengan bertudung helm dan berselimut jas hujan, tali kenur di ujung joran di lemparnya ke tengah laut.

Suasana di pancangan Ibu Tien Suharto, malam itu terlihat sangat gelap sekali. Sambaran petir dan angin laut yang sangat kencang menggeliat bersama deburan ombak. Keganasan laut Jawa tampaknya bukan menjadi penghalang bagi para pemancing. Dengan sangat serius mereka terus memburu Sembilang. Satu per satu Sembilang berhasil ditangkap.
Malam yang gelap dan hening seketika berubah mencekam. “Auww… kaki gua keinjek Sembilang,” teriak Fajar. Seketika itu pula kawannya tersentak kaget dan bergegas menghampirinya. Memang benar kaki kanannya menginjak patil Sembilang. Secepat kilat Sembilang yang tertancap di kakinya itu dicabut. Wajahnya terlihat pucat, badannya panas dan bibirnya bergetar. Tak berapa lama kawannya langsung menggendong Fajar untuk mengevakuasinya ke tepi laut.
Berjumlah delapan orang mereka bergantian menggendong Fajar. Mereka terus berlari. Sementara petir terus menjilat permukaan air laut dan hujan turun makin deras. Pancangan yang licin terus dilalui. “Cepat lari, kita harus segera sampai ke pinggir laut,” perintah Eeng, salah seorang yang dituakan di kelompok itu.
Setelah berlari sekitar satu jam akhirnya mereka sampai juga di warung abah Wawan. Abah langsung memberikan obat. Sementara kawannya yang lain sangat serius membakar dan mengikat kaki Fajar dengan karet ban.
Begitulah suasana yang sering dialami para pemancing dalam memburu Sembilang. Mereka tak hanya dibuat takut oleh ombak yang selalu menggoyangkan pancangan. Tapi racun Sembilang merupakan ancaman serius bagi para pemancing.
Sembilang termasuk jenis ikan laut. Biasanya hidup di laut dangkal, tak jarang juga banyak yang hidup di muara sungai. Ikan Sembilang yang hidup di pancangan ini jenisnya ada dua, Sembilang batu dan sembilang lubang.
Keberadaan Sembilang itu seperti diceritakan oleh Pak Mardi, penduduk asli Pedes, “Di pancangan ini terdapat dua jenis Sembilang, Sembilang batu dan Sembilang lubang. Sembilang batu hidupnya di celah batu dan Sembilang lubang hidupnya di lubang-lubang yang di buatnya sendiri.”
Sembilang lubang merupakan Sembilang yang telah dewasa. Beratnya sampai lima kilogram dan panjangnya sampai 70 cm. Bentuk ikan ini hampir sama dengan ikan Lele. Mempunyai patil dan kumis. “Tempat ini tak hanya menyuguhkan ikan Sembilang. Ikan Kakap, Utik, Lundu, Lubang dan Keropak juga terdapat di sini,” ujar Pak Mardi.
Dinamakan pancangan Ibu Tien karena pancangan ini dibangun oleh Suharto semasa menjabat presiden. Pancangan merupakan tembok beton yang menjorok ke laut. Panjang pancangan sekitar 1? km dan lebarnya 80 cm. Di tempat ini terdapat dua pancangan yang menyerupai muaranya aliran sungai. Jarak antarpancangan sekitar 50 m.
Pancangan yang dibangun pada tahun 1988 ini terletak di desa Pusaka Jaya Utara, Kecamatan Pedes, Karawang.
Pada awalnya pancangan dibangun untuk mengairi tambak udang milik Presiden Suharto. Tapi saat ini fungsi pancangan tak hanya sebagai suplai air untuk tambak. Banyak pemancing dari berbagai daerah datang kemari. Setiap hari pancangan ini tak pernah sepi dari pemancing.

Rasanya Gurih
Ikan Gurame dan Mas memang gurih, begitu juga ikan Utik. Beda dengan ikan Sembilang, lebih gurih dari ketiga ikan tersebut. Banyak cara memasak Sembilang. Dengan digoreng, dibakar atau dipepes dengan daun pisang.
Memasak Sembilang dengan dipepes rasanya akan lebih gurih dan disenangi para pemancing. Keguriahan rasanya inilah yang menjadi alasan pemancing untuk memburunya. Siang dan malam mereka tak henti-hentinya mancing Sembilang di pancangan Ibu Tien yang kaya akan ikan Sembilang.
Ikan Sembilang tak hanya diburu oleh pemancing dari Karawang. Tapi ada juga pemancing yang datang dari Bekasi, Jakarta, Bogor, Jonggol bahkan ada yang berasal dari Bandung. Mereka datang secara berkelompok atau perorangan. Para pemancing itu sangat menyukai mancing Sembilang pada malam hari. Selain suasananya yang sejuk. Pada malam hari biasanya ikan Sembilang lebih galak menyambut umpan yang di sodorkan pemancing.
Dalam memburu Sembilang para pemancing menggunakan joran. Jenis joran yang digunakan bermacam-macam. Ada yang terbuat dari bambu dan ada juga yang memakai joran yang berasal dari pabrik pancing. Umpan yang digunakan untuk memburu Sembilang yaitu udang Api-api. Karena udang ini dapat bergerak di dalam air, sehingga begitu menggoda Sembilang untuk memakannya. Untuk mendapatkan udang Api-api di tempat ini tak terlalu sulit. Warung abah Wawan yang berada tak jauh dari pancangan selalu menyediakan udang untuk para pemancing.
Sosok abah Wawan bagi pemancing sudah tak asing lagi. Dengan sikap ramah, ia selalu melayani segala keperluan para pemancing. “Abah tinggal di sini sudah 20 tahun. Keberadaan warung ini sangat berarti bagi pemancing. Berbagai keperluan pemancing tersedia di warung ini,” ujar abah.

Berbahaya
Selain gurih, Sembilang juga dikenal sebagai ikan yang berbahaya. Patil yang terdapat di bagian atas dan pinggir badan ikan ini mengandung racun. Bila tergores atau tertusuk patil Sembilang, wajah akan pucat, seluruh badan terasa panas dan susah tidur. Rasa sakit itu akan terus bertambah bila tak segera diobati. Meskipun ganas, racun ikan ini begitu unik. Racun ikan ini hanya menempel pada tubuh korban selama 24 jam. Setelah itu racun Sembilang akan hilang dan korban kembali sehat seperti semula.
Ikan Sembilang tak hanya gurih dan berbahaya, tapi juga mempunyai mitos. Mitos tentang Sembilang ini seperti diceritakan Eeng, pemancing asal Cikarang. “Bila patil Sembilang menggores kulit seorang wanita, maka wanita itu akan mendapatkan hoki (keberuntungan). Hoki itu bisa berupa mendapatkan rezeki ataupun gampang mendapat jodoh.”
Tak selamanya pemancing mendapatkan Sembilang di tempat ini. Bila tak dapat Sembilang. Pemancing tetap terus memburunya sampai ke pelelangan ikan. Di tempat ini terdapat dua pelelangan ikan, pelelangan Sungai Buntu dan Betok Mati. Kedua pelelangan inilah sebagai pilihan terakhir untuk mendapatkan Ikan Sembilang.
Sudah banyak korban oleh keganasan patil Sembilang. Tapi para pemancing tetap terus memburunya. Hujan yang deras disertai petir serta ganasnya ombak laut Jawa, bukan sebagai penghalang. Mereka tetap terus memburunya, meskipun harus sampai ke pelelangan ikan.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
www.tunut-ok.co.cc is proudly powered by Blogger.com | Web design by Ahmad Yulianto| Template by Agus Ramadhani | o-om.com